NUKLIR, KONDOM DAN ROBIN HOOD
August 5th, 2007 by ferdinandliuSuatu pagi di rumah seorang guru bangsa di bilangan Ciganjur, saya sedang meminum teh hangat sambil mengobrol santai tentang pencalonan gubernur DKI Jakarta. Bukan pembicaraan serius, tepatnya lebih merupakan guyon dan sindiran pada kondisi pilkada yang carut marut. Sambil berbaring di karpet tebal, sang guru terkekeh-kekeh menceritakan beberapa anekdot yang berkaitan dengan topik pagi ini. Di tengah tawa yang berderai, salah satu ajudan sang guru masuk dan melaporkan adanya kunjungan dari suatu rombongan, yang ternyata dari lembaga BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional). Sang guru manggut-manggut, tawanya berhenti. Beliau lantas bangun dari posisi berbaringnya, duduk bersila, dan mempersilakan para tamu tersebut untuk masuk. "Pasti mau minta restu soal nuklir", gerutunya singkat. "Jember, ya?", tanya rekan saya, seorang pensiunan tentara yang dekat dengan beliau. Memang saat itu sedang hangat pro-kontra tentang pembangunan fasilitas PLTN di Jember, Jawa Tengah. "Iya. Saya ngga setuju. Ngga bisa begitu", sambung sang guru. "Bukan masalah nuklirnya, tapi masalah tempatnya!"
Di sini saya cukup terkesiap mendengar kalimat terakhirnya itu. "Wah… pembicaraan ini akan jadi menarik", demikian pikiran saya. Tak lama rombongan tersebut masuk ke ruangan. Setelah bersalaman dan basa-basi singkat, saya dan beberapa rekan lainnya beringsut untuk duduk di tepian, memberi ruang.
Salah seorang dari rombongan tersebut mulai berbicara. Singkatnya seperti ini, "…saat ini kita perlu memikirkan sumber energi baru. Kebutuhan listrik terus meningkat, jauh lebih cepat dari kesanggupan kita untuk memenuhinya. Alternatif terbaik adalah dengan membangun PLTN. Secara teknis, kami sudah sangat siap. Masalahnya, ada tentangan dari masyarakat. Ini karena mereka kurang paham tentang nuklir, takut akan terjadinya masalah seperti di Chernobyl. Padahal dengan kemajuan teknologi saat ini, kami yakin sekali kami bisa membangun PLTN yang 100% aman.."
Paparannya cukup panjang, mungkin sekitar 5 menit. Sepanjang itu, sang guru hanya mendengarkan sambil mengetuk-ngetukkan jarinya perlahan. Tanda bahwa beliau sedang menyimak dan menganalisa. Saya pun ikut menyimak. Memang kata-katanya logis, masuk akal. Karena sudah tahu sikap sang guru tentang masalah ini, saya jadi lebih ingin tahu bagaimana beliau akan menjawab dan bereaksi, mendebat seorang paling pakar di bidangnya. Kami, saya dan sang pejabat, sama-sama menahan nafas. Saya karena penasaran, sang pejabat karena tegang.
Akhirnya sang guru mulai bersuara, "ya… secara teori bisa begitu, tapi prakteknya yang jadi masalah. Ada faktor manusia, dan secanggih-canggihnya teknologi tetap saja kesalahan bisa terjadi. Namanya juga orang. Jepang aja, yang begitu pinter, kebobolan juga. Apalagi kita, yang budayanya korupsi. Bikin jalan aja aspalnya bisa hilang sekian senti. Ya kalau cuma jalan masih ngga apa-apa, paling-paling cepat rusak, besok jadi proyek baru lagi. Kalau reaktor nuklir, gimana coba."
Di titik ini, sang pejabat cuma tersenyum masam. Memang bukan pernyataan untuk ditanggapi, tapi sikap sang guru sudah ditangkapnya. Bukan signal yang baik untuk kepentingannya. Sebuah pernyataan ketidak-setujuan.
"Dan yang utama, masyarakat menolak. Terlepas dari benar-tidaknya pandangan mereka, faktanya masyarakat masih menolak. Coba cari alternatif, bangun saja di pulau terpencil, jauh dari masyarakat."
Kali ini sang pejabat berusaha membantah, "biayanya akan sangat mahal". Dalam hati, saya ingin protes. Memang mahal, tapi semestinya bukan menjadi hambatan. Dan di luar itu, sang pejabat sudah salah langkah. Seorang teknokrat sejati, namun jelas bukan diplomat. Cara menyanggah langsung seperti itu jelas bukan langkah bijaksana. Tujuannya kan meminta restu, bukan untuk berdebat.
Sang guru mulai kehilangan kesabarannya. Beliau berbicara lugas, "Ya pokoknya, kalau untuk Jember, masyarakat menolak. Itulah masalah sesungguhnya. Kalian kurang sosialisasi. Coba belajar dari BKKBN dulu. Selama masyarakat tidak bisa menerima, rencana PLTN boleh disimpan dulu dalam laci" (Tahun 1980-an, program KB pada awalnya pun ditolak masyarakat, karena dianggap ‘mencampuri’ urusan alamiah kehidupan, melanggar agama. Namun sejarah mencatat Indonesia sebagai negara yang berhasil menjalankan program ini lewat proses penyuluhan yang intensif dan komprehensif, termasuk dengan meminta bantuan pada para ulama, iklan media massa, dll. Koordinasinya lewat BKKBN / Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). "Urusan pake kondom aja (sosialisasinya) dipersiapkan dengan baik. Masa mau bikin reaktor nuklir ngga ada (sosialisasinya)"
Caranya menjawab sungguh membuat saya kagum. Alih-alih mendebat tentang aspek teknis atau ekonomis, beliau berbicara tentang sosial budaya. Dan memang disitulah pokok permasalahan utamanya. Teknokrat terlalu fokus pada hal-hal teknis. Birokrat terlalu sibuk dengan proses administrasi yang bertele-tele. Teknokrat dalam birokrasi yang terparah… gabungan keduanya!
Satu pelajaran berharga yang saya petik pagi itu adalah tentang cara berpikir secara multi-dimensi. Ipoleksosbudhankam… ilmu-pengetahuan-teknologi, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan. Bukan cuma untuk mereka yang mengelola negara dan seabrek-abrek proyeknya, namun juga untuk kita para pelaku ekonomi dalam institusi skala apapun juga (mulai dari korporat sampai subdivisi). Dan pesan dari sang guru jelas… "utamakan manusianya".
Setelah rombongan BATAN pergi, Sang guru terlihat kembali rileks. Beliau mengomentari pembicaraan terakhir dengan sebuah cerita, yang walaupun sebenarnya sudah pernah saya dengar, namun tetap lucu karena dibawakan dengan gaya kocaknya yang khas. Cerita tentang kompetisi antar bangsa di pertandingan menjatuhkan apel dengan berbagai senjata. Peserta pertama dari Inggris. Dipanahnya sebuah apel yang ditempatkan di atas kepala seorang gadis dari jarak 100 meter. Tepat kena sasaran. Dengan bangga ia berucap, "I’m Robin Hood!" Selanjutnya giliran orang Amerika. Tak mau kalah gengsi, ia mundur sejauh 200 meter, membidikkan pistolnya dan menarik pelatuk. Tepat sasaran. Dengan kepala ditegakkan ia berteriak nyaring, "I’m Rambo!" Tiba giliran orang Australia, dari suku Aborigin. Dengan penuh keyakinan dilemparnya bumerang. Senjata tersebut kembali ke tangannya dengan apel sasaran menancap di salah satu sisi bumerang tersebut. Orang-orang bertepuk tangan sementara ia berteriak "I’m the Tribe Chief!" Giliran selanjutnya adalah orang Jepang. Berpakaian serba hitam sambil berjumpalitan dilemparnya sejenis pisau terbang. Apel terbelah menjadi dua. Dengan takzim ia bergumam, "I’m ninja!" Terakhir giliran orang Indonesia. Orang-orang terperangah kagum tatkala ia mengganti sasaran dengan buah duku. Dengan menutup mata, ia melempar bambu runcing. Tepat…. kena dada gadis pembawa sasaran. Dengan lirih si orang Indonesia berujar… "Oopps… I’m sorry!"
"Begitulah sifat kita… Ikut=ikutan, ngga mau kalah, sok yakin tanpa mempertimbangkan resiko. Kalau sudah kejadian, korban jatuh, baru minta maaf…"